Dipublikasikan oleh robert •

Siang itu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Rumah sedang sepi, sementara aku duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel. Sampai akhirnya terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Beberapa detik kemudian terdengar suara ketukan.

“Assalamualaikum.”

Aku langsung berdiri dan membuka pintu.

Saat melihat siapa yang berdiri di depan, aku sempat terdiam.

Adik iparku.

Di tangannya ada beberapa wadah makanan yang dikirim oleh mertuaku. Penampilannya sederhana, tetapi entah mengapa hari itu dia terlihat sangat cantik. Aku bahkan sampai berkedip beberapa kali karena tanpa sadar terlalu lama memandanginya.

Dia tersenyum.

“Kok bengong?”

Aku langsung tersadar.

“Eh… nggak. Ini makanannya?”

“Iya. Mama yang suruh antar.”

Aku menerima makanan itu sambil berusaha bersikap biasa.

“Makasih.”

Dia kemudian masuk sebentar untuk meletakkan beberapa barang. Kami sempat berbincang ringan. Tidak ada percakapan yang aneh, tetapi sejak hari itu aku mulai menyadari sesuatu yang seharusnya tidak pernah kubiarkan tumbuh: aku mulai terlalu memperhatikan adik iparku.

Awalnya hanya sebatas mengagumi.

Ketika dia datang, aku memperhatikan. Ketika dia mengirim pesan di grup keluarga, aku ikut membaca lebih lama. Ketika dia tersenyum, aku merasa senang.

Aku tahu itu salah.

Aku sudah menikah. Dia juga bagian dari keluargaku.

Karena itu aku mencoba menjaga jarak.

Namun keadaan justru membuat kami semakin sering bertemu. Ada acara keluarga, makan bersama, membantu orang tua, sampai beberapa kali dia datang ke rumah ketika istriku sedang tidak ada.

Awalnya semuanya biasa saja.

Sampai suatu sore, dia datang mengantarkan makanan lagi.

“Kak, ini dari Mama.”

Aku mengambilnya.

“Kamu sendiri?”

“Iya. Kebetulan lewat sini.”

Kami berbincang cukup lama. Entah bagaimana, percakapan sederhana itu berubah menjadi pembicaraan tentang kehidupan masing-masing.

Dia bercerita tentang masalahnya. Aku mendengarkan.

Aku juga mulai menceritakan masalah rumah tanggaku.

Saat itulah batas yang seharusnya ada mulai perlahan hilang.

Kami merasa saling mengerti.

Kami mulai sering bertukar pesan.

Awalnya hanya menanyakan kabar.

Lalu menjadi percakapan setiap hari.

“Udah makan?”

“Lagi ngapain?”

“Besok ke rumah Mama nggak?”

Pesan-pesan kecil itu terasa sepele. Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah kedekatan kami tumbuh.

Aku mulai sadar bahwa aku menunggu pesan darinya.

Ketika ponsel berbunyi, aku berharap itu dia.

Dan ketika dia tidak menghubungi, aku merasa kecewa.

Aku tahu aku sedang berjalan terlalu jauh.

Namun aku tidak berhenti.

Sampai suatu malam, kami bertemu tanpa anggota keluarga lain. Kami berbicara cukup lama dan akhirnya sama-sama mengakui bahwa perasaan kami sudah berubah.

Tidak ada yang langsung mengatakan ingin menghancurkan rumah tangga.

Tidak ada rencana untuk melakukan sesuatu yang buruk.

Tetapi kami sudah melakukan kesalahan hanya dengan membiarkan perasaan itu berkembang.

Hubungan rahasia pun dimulai.

Kami menjadi semakin dekat dan mulai menyembunyikan komunikasi dari pasangan masing-masing.

Setiap kali bertemu keluarga, kami berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.

Di depan semua orang, kami bersikap seperti kakak dan adik ipar biasa.

Padahal di balik itu, ada rahasia yang hanya kami berdua ketahui.

Semakin lama, semakin berat menjalani kebohongan tersebut.

Aku mulai merasa bersalah kepada istriku.

Setiap kali istriku berbicara kepadaku dengan penuh kepercayaan, aku merasa seperti orang yang sangat jahat.

Sementara adik iparku juga mulai merasa takut.

“Kalau sampai ketahuan gimana?” tanyanya suatu malam melalui pesan.

Aku tidak langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya aku benar-benar membayangkan akibatnya.

Bukan hanya rumah tanggaku yang bisa hancur.

Hubungan dua keluarga bisa berantakan.

Orang tua bisa kecewa.

Dan kami berdua bisa menjadi penyebab permusuhan di antara keluarga.

Akhirnya, hubungan itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang indah.

Yang tersisa hanya rasa takut, rasa bersalah, dan kebohongan.

Suatu hari, istriku mulai menyadari perubahan sikapku.

“Kamu akhir-akhir ini kenapa?”

“Kenapa?”

“Beda aja. Kayak sering melamun.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya aku merasa tidak sanggup lagi meneruskan kebohongan.

Aku kemudian menyadari bahwa kekaguman yang awalnya hanya membuatku berkedip karena melihat kecantikan seseorang telah berubah menjadi sesuatu yang hampir menghancurkan hidupku sendiri.

Aku memilih mengakhiri hubungan rahasia itu.

Tidak mudah.

Adik iparku juga terluka.

Tetapi kami tahu, kalau diteruskan, akan semakin banyak orang yang terluka.

Sejak saat itu kami benar-benar menjaga jarak. Tidak ada lagi pesan pribadi yang tidak perlu. Tidak ada lagi pertemuan berdua. Kalau bertemu dalam acara keluarga, kami berusaha bersikap sewajarnya.

Hubungan kami tidak pernah benar-benar bisa kembali seperti sebelum semuanya terjadi.

Dan sampai sekarang, setiap kali mengingat hari pertama dia datang mengantar makanan, aku sering merasa malu pada diriku sendiri.

Dulu aku hanya berpikir, “Adik iparku cantik sekali sampai aku lupa berkedip.”

Aku tidak pernah menyangka bahwa rasa kagum yang tidak dijaga bisa berubah menjadi godaan, lalu menjadi rahasia, dan hampir menghancurkan sebuah keluarga.

Komentar

Komentar